Cuma Kodok Biasa

Di sebuah pantai yang sunyi, terhampar luas pasir putih yang berasal dari hancuran terumbu karang yang tumbuh tak jauh dari batas pasang surut. Rumput ilalang tumbuh subur di sekitar pantai yang sunyi itu. Air laut yang berwarna hijau meneduhkan setiap pandangan mata yang melihatnya. Debur ombak yang pecah saat mencapai garis pantai membuat tenang setiap jiwa yang mendengarnya. Pantai yang sangat menggoda indahnya, terutama pada saat matahari terbenam. Warna emas yang memantul di antara batas laut dan langit memberikan kesan damai bagi tiap makhluk yang meluangkan waktu untuk menikmatinya.

Waktu itulah yang selalu disediakan oleh Kori, katak jantan besar yang tinggal di sungai yang bermuara di pantai itu. Setiap hari Kori setia menanti waktu senja dan datang ke pantai hanya untuk mengantarkan sang mentari kembali ke peraduannya. Saat-saat itulah yang paling berharga bagi Kori yang tinggal seorang diri sampai beranjak dewasa. Satu-satunya saat yang paling menghibur hati Kori yang selalu sunyi.

Sebenarnya Kori tidak lahir di sana, tapi jauh ke arah darat, di mana hamparan sawah bagaikan permadani yang terbentang luas. Sebuah kecelakaan kecil merenggut Kori dari keluarga serta katak-katak lain yang disayanginya. Sore hari itu hujan rintik. Kori dan teman-temannya bermain petak umpet untuk menyambut berkah yang turun dari langit. Kori bersembunyi di balik batu kecil di pinggir sungai tidak jauh dari sawah, berharap Ara, teman baiknya, tidak bisa menemukannya. Tempat Kori bersembunyi merupakan tempat yang nyaman, begitu tersembunyi dan terlindung di balik rerumputan yang menjulang ke sungai. Begitu nyamannya sehingga Kori terlelap di atas daun mangkok yang diambilnya sewaktu terhanyut tak jauh dari tempatnya berjongkok.

Hujan bertambah lebat saat Ara berhasil menemukan semua katak-katak kecil yang bersembunyi di tempat mereka masing-masing, kecuali Kori.

“Kori, kamu dimana?”, Ara berteriak memanggil.

Petir menggelegar kencang membuat takut anak katak yang sedang bermain itu. Kori yang sedang terbuai mimpi sampai terbangun mendengarnya. Air yang semakin keruh mulai naik dan menghanyutkan daun mangkok serta Kori yang berada di atasnya. Serta merta Kori kecil mulai panik.

“Ara! Teman-teman! Tolong aku! Tolong!”

Teriakan Kori tak berhasil menembus deru suara hujan serta air sungai yang bergemuruh. Tubuh kecil Kori tak kuasa menahan arus kencang yang membawanya pergi jauh dari kehidupan yang dicintainya, hingga berakhir di muara pantai yang indah itu.

~~~~~

Sore seperti biasanya, setelah selesai berenang dan mencari makan, Kori bergegas menuju pantai. Kori melompat-lompat kecil melewati rerumputan di atas pasir putih yang lembut. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh suara aneh yang sudah sangat lama tidak didengarnya. Suara yang mengingatkannya pada masa-masa kecil dulu. Suara itu mirip dengan kereta yang berjalan tanpa ditarik sapi dan mengeluarkan asap berwarna hitam dari pantatnya. Kereta yang datang pada saat petani memotong padi yang sudah kuning dan membawanya pergi jauh.

Kori bergegas menuju arah suara itu. Dilihatnya kereta itu, lebih kecil daripada kereta yang dulu pernah dia lihat. Kereta berwarna seperti batu sungai yang gelap dengan empat kakinya yang bulat. Suaranya juga tidak sekeras seperti dalam ingatannya dan juga tidak mengeluarkan asap hitam. Sejenak kemudian kereta itu tidak lagi mengeluarkan suara. Kori memperhatikan dengan hati-hati sembari menyembunyikan badannya di balik rerumputan menanti apa yang akan terjadi.

Tak lama kemudian, dilihatnya sepasang kaki keluar dari dalam kereta. Sepasang kaki putih bersih keluar dari dalam kereta menopang sesosok badan yang langsing. Kori sejenak tertegun menyaksikan seorang manusia yang begitu indah berdiri di depannya. Kembali terngiang di benaknya tentang sosok manusia yang dulu pernah dilihatnya. Manusia yang setiap hari mencangkul di sawah penuh dengan lumpur di bawah terik matahari. Manusia yang ini sangatlah berbeda dengan manusia dalam ingatannya.

Manusia yang ini sangatlah bersih, tidak ada lumpur yang menempel di badannya.  Pakaiannya juga bersih, tidak compang-camping. Baunya juga harum, tidak apek. Tidak ada bekas-bekas terbakar matahari di kulitnya. Rambutnya panjang  sebahu lewat sedikit tergerai tertiup angin. Wajahnya indah, tak dapat dibandingkan dengan apapun, karena Kori belum pernah melihat wajah seindah ini sebelumnya.

Kori terhenyak dari lamunannya segera setelah manusia tiba-tiba berlari menuju ke laut. Kori melompat-lompat mengejar manusia itu agar tidak hilang dari pandangannya. Manusia itu berlari bertelanjang kaki menerjang buih-buih ombak di pantai. Tertawa lepas manusia itu bermain-main ombak dan membiarkan pakaiannya basah, bagai anak-anak petani yang tertawa puas setelah layang-layang miliknya naik dan terbang tinggi di angkasa.

Tebersit kemudian di benak Kori untuk mendekat, menyapa, dan bermain bersama manusia yang indah itu. Kori mulai melompat mendekati manusia itu. Sebentar kemudian Kori sudah berada hanya beberapa lompatan lagi di pinggir pantai. Kori berhenti sejenak dan berharap mendapat perhatian dari manusia yang dituju. Manusia indah itu masih saja asyik bermain dan tertawa lepas. Kori masih setia menunggu dan memikirkan bagaimana cara menyapa manusia itu.

“Hai, aku Kori. Maukah kamu menjadi temanku dan bermain denganku?” Tanya Kori mencoba dialognya dalam hati.

Tak lama kemudian, manusia indah itu berhenti bermain air dan kembali ke pantai, menuju tempat Kori menanti. Saat itu matahari sudah mulai menunjukkan warna keemasannya. Ketika manusia mendekat, Kori yang sudah mempersiapkan diri untuk berkenalan, melompat ke hadapannya.

“Hai manusia yang indah, aku Kori. Maukah kamu menjadi temanku dan bermain denganku?” Tanya Kori.

“Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgh! Pergi kau kodok jelek!” Teriak manusia itu dalam bahasa yang tidak dimengerti Kori.

Selanjutnya Kori mendapati manusia itu sudah berlari menuju keretanya dan pergi meninggalkan Kori seorang diri. Bukan sebuah situasi yang diharapkan Kori.

“Berhenti! Kenapa kau pergi? Aku hanya ingin berkenalan denganmu! Aku ingin bermain bersamamu!” Teriak Kori berusaha menghentikan laju kereta itu.

Teriakan Kori tidak membuat laju kereta itu menjadi pelan dan berhenti. Hanya debu beterbangan yang tinggal serta jejak manusia itu di pasir pantai yang tak lama kemudian hilang disapu oleh ombak.

Kori terdiam beberapa lama di tempatnya merenungkan apa yang baru saja terjadi, sampai saat sapuan cahaya keemasan menerpa wajahnya yang sendu. Kori berbalik badan menuju arah datangnya cahaya dan melayangkan pandangannya ke batas cakrawala. Dipandangnya matahari yang mulai masuk ke peraduannya. Saat-saat yang tidak pernah dilewatkan oleh Kori sepanjang hidupnya di muara pantai itu.

“Aku kira memang hanya kamu teman sejatiku. Hanya kamu yang mampu menghiburku dalam hari-hariku yang sepi.” Berkata Kori kepada matahari yang mulai redup sambil melompat pergi kembali ke sungai tempat tinggalnya selama ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: