Minggu Pagi di Lapangan Puputan Kota Denpasar

Minggu pagi, kesempatan buat kumpul bareng keluarga di hari libur yang bagi sebagian orang mungkin hanya sekali dijumpai dalam kalender kerja 6-1. Beberapa orang menghabiskan waktu dengan tiduran di pembaringan, sebagian lain berjalan-jalan di tempat menarik, ada juga yang pergi ke pasar, atau berolah raga di fasilitas publik. Buatku, minggu pagi sama seperti hari-hari biasa, bangun pagi setelah subuh, ambil sepeda dari garasi, keluar keliling kota sambil mengamati berbagai macam ekspresi dan suasana kota yang mulai ramai hilir mudik orang dengan segala kepentingannya.

Tujuan hari ini selain rute normal: lapangan Puputan Kota Denpasar.

Setelah sekitar 10 menit mengayuh sepeda, aku sampai di depan patung Catur Muka representasi Dewa Brahma yang seperti namanya, memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Patung setinggi 9 meter ini dibangun pada tahun 1973 oleh pematung asal Ubud, I Gusti Nyoman Lempad.

Berjalan ke arah timur dari patung Catur Muka, di dalam komplek lapangan Puputan Denpasar, kita akan menjumpai patung Pahlawan Puputan Badung yang diresmikan pada tahun 1979 oleh menteri keuangan saat itu, Prof. Dr. Ali Wardhana. Patung ini merupakan simbol perjuangan rakyat Bali pada saat peristiwa Puputan Badung yang pecah pada tahun 1906 dan berakhir hanya dalam waktu 2 jam! Dalam buku Seabad Puputan Badung, Perspektif Belanda dan Bali, hasil editan Creese, Darma Putra, dan Nordholt, disebutkan tentang penyebab pertempuran.

Menurut versi Belanda, peperangan terpaksa dilakukan karena kerajaan Badung membiarkan penjarahan kapal Sri Kumala yang terdampar di Sanur. Ketika Belanda meminta kerajaan Badung untuk membayar 3000 ringgit akibat perampasan tersebut, raja Badung menolaknya. Selain itu, penyerangan dilakukan karena raja Badung tidak mau menghapus tradisi mesatia, yaitu ritual yang dilakukan para istri dengan membakar diri ketika suaminya meninggal sebagai tanda kesetiaan.  Penyebab lainnya yaitu berlarut-larutnya masalah perbatasan antara Badung, Gianyar, dan Bangli yang menyebabkan seringnya terjadi bentrokan.

Namun menurut versi kerajaan Badung, permintaan denda itu hanya alasan yang dicari-cari karena setelah dilakukan penyelidikan tidak ada yang melakukan penjarahan isi kapal sehingga raja Badung menolak untuk membayarnya. Bagi raja Badung, bukan besarnya denda yang menjadi masalah, tetapi karena Belanda telah nyata-nyata menginjak kebebasan atau hak rakyat berupa kejujuran dan kebenaran!

Alhasil, pertempuran yang mungkin lebih tepat disebut pembantaian tersebut pecah. Raja Pemecutan dan raja Denpasar yang bertempur beserta pengikutnya, pria, wanita, tua, muda, menggunakan pakaian terbaik untuk bertempur serta bersenjatakan tombak dan keris gugur melawan Belanda yang bersenjatakan senapan dan meriam.

Sebelah timur patung Puputan Badung, terdapat sederet tempat duduk di bawah pepohonan yang rindang dengan papan catur dan buah catur berukuran sekitar anak kelas 3 SD. Agak membingungkan juga melihatnya dan menimbulkan pertanyaan dalam diri, yang bermain catur akan memindahkan buah caturnya sendiri atau membawa kacung untuk melakukannya? Nyatanya pagi itu tidak ada yang benar-benar bermain catur di sana, hanya sekumpulan anak kecil yang bermain, memindahkan buah catur seukuran tubuh mereka tanpa mesti berpikir keras ala Irene Kharisma Sukandar, master FIDE wanita Indonesia yang meraih gelar master Percasi dalam usia 9 tahun!

Berjalan mengitari lapangan di sebelah timur, di depan Pura Agung Jagatnatha, saat ini diselenggarakan pameran budaya. Banyak booth, tapi aku sendiri tidak begitu paham apa yang sedang dipamerkan. Mataku hanya tertuju pada papan menu salah satu booth, sate kakul. Kakul adalah sejenis kerang kecil yang hidup di sawah, memiliki tekstur daging yang lebih kenyal daripada kerang laut dan memiliki rasa yang khas.

Lanjut ke arah selatan lapangan, akan ada semacam washtafel tempat air minum. Ini dijumpai juga di lapangan Renon. Free drinking water for public, jadi gak usah repot-repot beli Aqua 3000 rupiah, tinggal pencet kerannya langsung ke mulut dan dahaga akan hilang.

Minggu pagi memang saat yang istimewa. Sangat sayang apabila harus dihabiskan di atas peraduan. Sangat berharga apabila dilewatkan dengan menonton HBO, yang acaranya berulang-ulang terus selama sebulan. Alangkah bahagianya apabila bisa dibarengkan dengan keluarga tercinta berbagi pengalaman bersama di ruang terbuka publik yang nyaman atau di tempat tujuan yang menarik.

Happy Sunday morning. Family comes first as blood is thicker than water.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: