Nyanyian “Paris Barantai” di Discovery Mall Kuta

“Wayah pang sudah hari baganti musim
Wayah pang sudah

Kotabaru gunungnya Ba’ mega
Ba’ mega umbak manampur di sala karang
Umbak manampur di sala karang

Batamu lawanlah adinda
Adinda iman di dada rasa malayang
Iman di dada rasa malayang..”

Sepenggal kalimat dari lagu Paris Barantai karya H. Anang Ardiansyah tersebut mungkin terasa agak asing ditelinga sebagian besar orang yang berada di Discovery Mall Kuta sore ini. Mungkin juga sama seperti aku, yang sewaktu masih di Banjarbaru biasa mendengar Radio SAS FM pada saat berangkat ke tambang dan kumpulan rekaman lagu yang tidak berbahasa Banjar ketika siaran radio mulai terdengar gemeresek di mobil Ranger Ali. Satu-satunya lagu berbahasa Banjar yang pernah kudengar di kumpulan rekaman lagu Ali cuma lagu tentang kekecewaan seorang pria yang ditinggalkan ceweknya gara-gara kalah bersaing dengan pria lain yang memiliki motor yang lebih bagus! Lagu yang sedikit liriknya bisa kuartikan dengan mulut terkulum menahan tawa karena terdengar lucu.

Siang itu di Discovery Mall Kuta ada acara Borneo Extravaganza, semacam eksibisi kesenian dari pulau Kalimantan. Ada empat booth yang berasal dari empat provinsi yang ada di Kalimantan, mulai dari ujung barat sampai ujung timur. Acara ini berlangsung dari tanggal 8 sampai 10 Oktober besok. Beberapa barang kerajinan serta brosur-brosur potensi wisata masing-masing daerah tersedia di setiap booth. Tidak ketinggalan juga kesenian dari tiap provinsi ditampilkan di atas panggung. Lucky for me, hari itu yang tampil dari Kalimantan Selatan.

Tidak lupa kuambil masing-masing brosur, terutama Kalimantan Barat, daerah di Kalimantan yang belum pernah aku menginjakkan kaki di sana. Tidak lupa juga aku mampir di booth Kalimantan Selatan, tapi sayang, barang-barang yang ada di sana nampaknya tidak dibawa langsung dari sana, tapi dibuat di daerah Padanggalak Sanur! Well, agak kecewa juga, padahal aku pingin cari tempat tisu sasirangan buat di kamar dan saluang goreng buat camilan.

Selain Paris Barantai, yang katanya terinspirasi keindahan alam sekitar Kotabaru, si penyanyi cowok bersuara merdu yang namanya aku lupa dan Kiky, duet perempuannya, ada juga lagu Saputangan Babuncu Ampat dan satu lagu lagi yang aku lupa namanya sebelum aku harus pulang karena Itok disuruh pulang sama mamanya. Ibu Dayu, perempuan Bali paruh baya yang duduk di depanku, saking senangnya dengan lagu Paris Barantai, sampai meminta kedua biduan untuk mengulang kembali bernyanyi lagu itu. Ternyata lagunya bagus juga, aku suka. Sembari lagu dinyanyikan, beberapa penonton secara spontan ikut naik ke panggung sambil berjoget ala poco-poco yang asal Timur Indonesia.

Sebelum kedua penyanyi naik ke panggung, kami disuguhi tarian dari Kabupaten Balangan, namanya tari Bakasai Duri Manau, tarian orang Dayak sana. Menurut ibu-ibu pembawa acara berjilbab yang fasih berbahasa Inggris, tarian tersebut merupakan tarian untuk menghormati alam yang telah memberikan penghidupan untuk penduduk daerah sana. Tarian tersebut menggunakan duri manau, yang katanya cuma tumbuh di daerah Balangan, digosok-gosokkan ke badan si penari. Mungkin kira-kira seperti tari Kecak di Bali yang menusuk-nusukkan keris ke dada atau Kuda Lumping yang makan beling. Sebelum tarian dimulai, ada semacam dukun membawa semacam kemenyan dan membaca semacam mantra kekebalan kepada si penari. Lalu dimulailah atraksi yang sebaiknya jangan pernah dicoba di rumah, ala perang pandan seperti di Desa Tenganan Karangasem, hanya saja, si penari tidak membalas, hanya menerima pukulan batang berduri.

It was so fun today, mengingatkan aku akan Banjar. Tapi sedikit ironi, selama aku di sana belum pernah sekalipun aku mendengar lagu ini, malah ketika pulang ke Bali aku disuguhi tontonan yang sebegitu menariknya. Andai saja dulu di sana aku mengerti kalau ada tempat-tempat yang menyediakan hiburan kesenian lokal seperti ini, akan ada alternatif tempat hiburan lain selain window shopping sambil ngecengin cewek di Duta Mall, bilyar di hotel Barito, ngopi di Own Café, ngobrol-ngobrol gak jelas di tempe mendoan lapangan Moerdjani, atau teriak-teriak kesetanan di Happy Puppy.

Well, I miss tempe mendoan Moerdjani.

I miss teriak-teriak kesetanan di Happy Puppy.

I miss ngopi di Own Café.

I miss makan pentolnya Ipit.

I miss nyodok di Barito.

I miss ikan patin goreng yang bikin aku gak selera makan.

I miss my friends at the old office.

I miss Banjar.

I miss you..

My lovely room, Bali, 9 Oktober 2010. 11.09 pm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: