Nongkrong Bareng Wahyu, Depi, dan Ucok.. Obrolan Seputaran Nikah dan Selingkuh

Minggu malam sekitar jam 7, aku, Ucok Hasibuan, Wahyu, dan Depi ketemuan di Citos. Bermula dari iseng-iseng nelfon Depi, akhirnya tercetus ide buat ngumpul bareng lagi setelah sekian lama mereka meninggalkan Jogja, lulus dari kampus Geologi UGM tercinta. Dari ngumpul bareng itu akhirnya baru terungkap setelah beberapa waktu kalau orang-orang ini ternyata berdomisili saling berdekatan, seputaran Fatmawati dan Cilandak. Rencananya Binsar juga mau ikutan, tapi karena semua orang rumah pada pergi, dia ketiban sial buat jaga kandang.

Wahyu dan Depi datang duluan dan langsung ngetem di Restoran Dimsum sebelah utara dekat Soho. Aku jemput si Ucok dulu ke kosnya dibelakang Total Buah Segar, di komplek keuangan. Pertamanya kami duduk di bagian, tapi berhubung aku dan Ucok adalah tipe orang yang tidak bisa mengakhiri makan tanpa kepulan asap rokok yang beracun, akhirnya kami pindah ke kursi agak belakang.

Obrolan ringan meluncur lancar seiring banyaknya cerita sewaktu lama tak bersua. Kenangan-kenangan masa lalu juga juga terselip diantara perbincangan kami diselingi kudapan makanan porsi kecil dimsum namun mengenyangkan. Rencana-rencana masa depan juga mulai terkuak. Rencana reuni 10 tahun angkatan ’99, rencana Ucok yang akan menikahi seorang pramugari sesama orang Batak asal Pekanbaru, rencana Depi yang juga akan menikah Februari 2010, rencana Wahyu yang minta dicarikan jodoh sama Depi setelah umur 32 dan akan mulai mengincar om-om kaya sebagai penghasilan tambahan (hehehe, becanda), dan aku yang masih jomblo dan belum memiliki rencana menikah tapi tidak se-desperate Wahyu dan akan merubah orientasi seksualku🙂.

Ngalor-ngidul kami ngobrol dan sampai pada topik seputar nikah dan selingkuh.

“Yang namanya nikah itu pasti bikin orang menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Orang yang sebelumnya minum jadi berhenti waktu nikah. Orang yang sebelumnya pemarah juga menjadi lebih sabar waktu menikah. Menikah itu berbeda daripada waktu pacaran. Kita dengan sendirinya menjadi teman, sahabat dan saudara bagi pasangan kita.” Kata Depi mengawali topik.

“Jadi kalo elo nggak merasa menjadi lebih baik, baik elo nggak usah nikah aja Cok.” Tambah Depi kepada Ucok yang akan memulai status baru bulan depan.

Obrolan tentang pacaran dan nikah dan pasangan memang tidak ada habisnya dibicarakan. Seiring obrolan kami, topik berubah haluan sedikit menjadi perselingkuhan.

“Nanti kalo loe udah nikah, jangan sekali-kali menerima curhat seorang cewek. Awal selingkuh itu bermula dari curhat.” kata Depi berdasarkan pengalaman pribadinya di kantor.

“Iya juga sih, sama kayak di kantur gue.” Wahyu membenarkan.

“Mulai dari masalah rumah tangga yang kelihatannya kecil nanti sampai ke rasa sayang yang terlarang.” Depi menambahkan.

“Iya, nggak ada tu yang namanya adik kakak. Gak ada juga yang namanya sahabat. Nanti ujung-ujungnya jadi sayang.” timpal Wahyu.

“Kata orang, diamond is women’s best friend, kalo sekarang gay is women’s best friend. Kalo cowok nggak bakalan bisa jadi women’s best friend, nanti bakal diembat juga.” tambah Wahyu.

“Tapi aku enggak tuh Yu!” sanggahku ke Wahyu.

“Buktinya aku sama Jenny nggak kayak gitu. Kami malah jadi sahabat baik sampe sekarang.” kataku lagi ke Wahyu.

Jenny adalah teman baikku, tempat curhat dari jaman kos dulu di daerah Gejayan. Dia orang Manado yang tinggal di Samarinda, pacar teman kosku, Yoda. Malah aku lebih dekat ke Jenny daripada Yoda. Dulu sering aku ajakin keluar ngangkring ngobrol gak jelas di Pakualaman sampe jam 2 pagi. Punya kemiripan nasib, kalo aku dimarahi ortu gara-gara gak lulus, dia dimarahi ortu gara-gara belum dapet kerjaan. Dia akhirnya dapet kerjaan, dan aku dalam waktu selisih sebulan, akhirnya lulus dan kerja juga. Sekarang kerja Jenny di Danamon Samarinda sebagai marketing officer.

“Iya, memang kelihatannya begitu, tapi nanti lama-lama dia pasti akan membandingkan elo sama Yoda. Mending elo sekarang jangan terlalu deket sama dia.” Wahyu menegaskan.

Aku sebenarnya tidak setuju dengan apa yang diucapkan Wahyu, tapi apalah. Yang penting kan pembawaanku ke Jenny tetap sebagai sahabat dan mudah-mudahan tidak ada pihak yang berniat merubah status itu. Walaupun aku masih jomblo, tidak ada niat buat ngembat sahabat sendiri, meskipun dia jadi cewek terakhir di dunia ini. Weleh, lebai, hehehe. Kata bapakku “Kalo ente masih jomblo, buka mata selebar-lebarnya. Tapi kalo ente sudah dapet, pake kacamata tidur, biar gak usah liat yang lainnya.”

Pembicaraan terus berlanjut menganan-mengiri sampai jam 9.30. Waktu untuk pulang karena kami semua mesti kerja di keesokan paginya. Wahyu masih bergelut dengan hitung-hitungan ekonominya, Depi dengan data seismik dan tetek bengeknya, Ucok yang lagi stand by di kantor entah ngapain, dan aku yang juga stand by dan sempat-sempatnya nulis note ini diwaktu jam kerja.

Hehehe..Pis man..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: