Preman???

Suatu hari, Simbah dan cucunya, Grandong yang asyik bermain dengan PSP-nya, sedang nonton berita kriminal Buser SCTV di sofa empuk Starbucks Ambarrukmo. Berita yang sedang marak saat ini tentang pemberantasan preman di terminal-terminal, pasar, lokalisasi, jalan raya, sampai gang-gang sempit.

Grandong yang masih belum cukup umur untuk masuk SD apalagi minum bir sejenak terbagi perhatiannya dengan berita yang ditayangkan tersebut dan bertanya pada Simbah, "Mbah, preman itu apa toh?"

Simbah yang dari tadi memperhatikan serius berita yang di-stream di laptopnya menoleh sambil tersenyum lembut kepada cucu kesayangannya. Sejenak Simbah terdiam sambil berusaha mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Grandong. Sejurus kemudian Simbah membuka mulutnya, "Le, yang namanya preman itu kalau ndak salah, sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan waktu jaman sebelum Mbah dibikin sama buyutmu dulu, mereka sudah ada. Tapi dulu mereka itu orang baik-baik, jawara jagoan gelut yang direkrut buat membantu mengamankan orang-orang berduit dari para perampok. Mungkin sama dengan ronin kalau di Jepang. Kelanjutannya, istilah preman jadi berubah menjadi negatif karena mereka mulai suka malakin orang dan minta duit dari mereka."

Grandong yang mulai sedikit ngeh menimpali, "Kalau gitu Mbah, orang-orang yang tengah malam suka lewat sambil mukul-mukul tiang listrik itu preman juga ya? Kan mereka suka ngambilin duit di depan rumah!"

Simbah yang sedang menyeruput hot chocolate aroma vanilla-nya sedikit tersedak. Simbah berusaha memperbaiki raut wajahnya yang sedikit dongok karena kaget. "Ya bukan toh, Le. Mereka itu kan tukang ronda dari kampung kita. Lha wong Mbah dulu waktu masih kuat begadang juga sering ikutan giliran ronda hari Jumat malam kok Le. Uang yang di depan rumah itu memang sengaja ditaruh, namanya jimpitan. Tujuannya supaya orang-orang yang ikutan ronda itu keliling ngambilin duit keliling kampung. Kalo ndak digituin, nanti habis mereka nonton CSI-nya Star Movies dan ngabisin jajanannya si tuan rumah, mereka langsung ngeloyor pergi pulang, bobok", pungkas Simbah.

"Ooooooh begitu toh!" timpal Grandong dengan bibir mungilnya yang membentuk huruf O bulat.

"Terus kalau Jos Bus itu preman bukan Mbah? Dia kan katanya Papa, sengaja nyerang Irak cuma buat dapetin minyaknya. Apalagi waktu itu Amerika lagi butuh minyak banyak karena kebutuhan dalam negeri mereka meningkat akibat musim dingin, Mbah. Berarti kan tetap ujung-ujungnya duit juga." Grandong kecil melanjutkan perbincangan.

Simbah makin menampakkan wajah dongoknya, seakan tidak percaya akan apa yang didengar oleh kupingnya. Dalam hati mungkin Simbah menyalahkan anaknya yang memasang akses internet Indosat unlimited 100 ribuan di rumah karena rayuan si mbak SPG yang centil di Lower Ground Floor depan Carrefour Plasa Ambarrukmo. "Ya mungkin juga sih, Le." Simbah menimpali sekenanya karena pikirannya masih shock.

"Mbah, apa yang namanya preman itu selalu minta duit?" Grandong kembali bertanya.

"Kayaknya sih ndak, Le. Sekarang ini, aksi premanisme ada di mana-mana. Maksutnya, mereka menggunakan kekerasan dan menekan pihak lain agar kehendak mereka terpenuhi." Simbah akhirnya mulai menemukan kesadarannya.

"Ooo, berarti sama seperti kasusnya Kangmas Bejo di sekolahnya itu ya Mbah?" lanjut Grandong.

"Kasus yang mana to Le?" tanya Simbah penasaran.

"Katanya Kangmas Bejo, di sekolahnya itu, kakak kelasnya mukulin adik kelasnya, dan akhirnya mereka berantem. Katanya sih, karena kakak kelasnya itu tersinggung dengan posting adik-adik kelas mereka di Facebook yang isinya mendiskreditkan mereka. Persoalannya dimulai saat ekskul ilmiah yang menunjang mata pelajaran. Nah, si kakak kelas yang jadi tentor, katanya Kangmas Bejo, terlalu keras dan resek sama kelasnya Kangmas Bejo. Mereka dikasi tugas terlalu banyak dan waktu pengumpulan tugasnya juga gak jelas. Kelasnya Kangmas Bejo jadi keberatan. Namun si kakak kelas tetap keras hati. Jadinya kelasnya Kangmas Bejo tidak bisa berbuat apa-apa selain ngedumel dalam hati. Daripada cuma ngedumel doang dan bisa menyebabkan sakit jantung, beberapa orang teman kelasnya Kangmas Bejo bikin posting di Facebook. Nah posting itu mungkin sebabnya yang bikin mereka kesal dan melakukan kekerasan kepada teman kelasnya Kangmas Bejo. Berarti mereka preman dong Mbah?" si Grandong kecil bertanya dengan lugu.

Simbah cuma manggut-manggut sambil berpikir untuk menjawab cucunya yang tidak disangkanya secerdas ini. "Le, sebelum kita menyimpulkan suatu permasalahan, kita harus bisa melihat dari berbagai macam sudut pandang, supaya kamu bisa menyimpulkan secara obyektif. Kamu kan cuma dengar ceritanya dari Kangmas Bejo, kamu belum dengar versi kakak kelasnya toh?!" kali ini Simbah mulai serius menjawab pertanyaan cucunya.

"Yang namanya orang yang lebih muda wajib menghormati orang yang lebih tua, dan orang yang lebih tua wajib menyayangi yang lebih muda. Kalau orang yang muda berbuat salah, yang tua wajib mengingatkan dan memperbaiki dengan cara yang baik. Kalau yang lebih tua salah, dia wajib berbesar hati dan meminta maaf. Tidak ada yang salah dengan meminta maaf. Orang yang baik kan bukan orang yang ndak pernah berbuat kesalahan, tapi dia berbuat salah dan berusaha memperbaiki kesalahan itu." Simbah mulai mengeluarkan jurus-jurus wejangannya.

Grandong kecil memperhatikan dengan mimik wajah serius namun tetap tampak lugu sambil menyeruput es coklat ukuran mediumnya.

"Murid yang lebih mengerti membantu gurunya untuk membuat adik kelasnya mengerti itu kan mulia. Wong ada yang bilang itu amal jariyah, je! Menyebarluaskan pengetahuan yang berguna. Tapi, cara yang digunakan juga mesti bener. Jangan lagi pake cara-cara kolonial sok kuasa seperti waktu Mbah kecil dulu. Hari geenee pake cara kolot?!" tukas Simbah menirukan iklan Esia jadul.

"Anak-anak jaman sekarang itu sudah jauh pemikirannya. Bahkan jauh lebih cerdas daripada jaman jaya-jayanya Mbah dulu. Wong dulu Mbah cuma makan tiwul sama gaplek, anak-anak sekarang sudah makan Pizza Hut, McDonald, KFC, dan apalah itu segala makanan moderen. Dulu waktu jadi mahasiswa, Mbah cuma nongkrong di angkringan makan ceker ayam dan sate usus, anak-anak sekarang sudah dugem di Hugo’s atau cuma hangout santai sampai pagi di Oh la la." tutur Simbah membandingkan.

Simbah berhenti sebentar untuk meminum hot chocolate-nya yang sudah mulai dingin.

"Jadi Le, sudah ndak jamannya lagi pake cara-cara jadul dan otoriter buat ngajarin anak-anak jaman sekarang." sambat Simbah.

"Ooooooooooooh begitu toh!" kali ini bibir Grandong kecil lebih membulat.

"Tapi jangan lupa, Le, dalam menyampaikan uneg-uneg juga mesti sopan, jangan sampai menyakiti hati orang lain. Meskipun orang kata anak-anak jaman sekarang itu cerdas-cerdas, tapi tetap, mereka itu masih muda. Biasanya lebih gampang emosi. Nah emosi itu yang wajib dijaga jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Belajarlah untuk sabar. Katanya Kakeknya kakek buyutnya Mbah, good things come to those who wait. " Simbah menambahkan dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.

"Terus Mbah, sampai terjadi perkelahian itu bagaimana?" Grandong kembali bertanya.

"Wah kalau itu Mbah tetap ndak setuju. Yang namanya institusi pendidikan itu harus mengutamakan yang namanya dialog. Jadi berkelahinya lewat otak, bukan lewat otot. Kekerasan itu cara paling primitif dalam menyelesaikan masalah. Kalau bisa diselesaikan baik-baik kenapa harus dengan kekerasan? Gitu aja kok repot!" Simbah berkata sambil menirukan gaya Pak Dur.

"Ya sudah Le, sudah hampir ashar ini, ayo kita pulang. Kamu belum mandi sore toh?! Mamamu sudah miscall Mbah terus dari tadi. Tadi HaPe Mbah silent supaya bisa santai ngajak kamu keluar, hehehe." Simbah tertawa renyah mengakhiri diskusi sambil menutup laptopnya.

FathoniJo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: