Jazz Goes to Campus UI, Senang dan Sedih Banget…

Jakarta Selatan, 23 November 2008.

Hari Minggu pagi yang cerah. Seperti biasa, aku duduk di depan komputer, browsing berita terbaru online, buka email siapa tau ada panggilan kerja baru, dan main Facebook. Tiba-tiba teringat aku kalau temanku latihan aikido di Jogja, AA. Indira Wardhani, ngajakin aku pagi hari ini buat jadi body guard dia dan tantenya pergi ke acara Jazz to Campus (JGTC) di UI Depok. Waduh, sial, aku lihat jam ternyata sudah jam 11, dan aku diajakinnya pagi. Yah, dasar sial, gara-gara aku begadangin strata.geol.sc.edu semaleman buat belajar sampai jam 1 pagi, aku jadi bangun jam 10!

Iseng-iseng aku buka website-nya JGTC. Disana ada jadwal acara dan siapa yang pentas. Ternyata acaranya mulai jam 11 siang dan berlangsung sampai malam. Langsung aku telfon temanku SMA-ku di Bali, Putra Jaya Suprana yang kerja di kantor pajak dan sudah lama tinggal di Jakarta. Aku tau kalau dia juga pingin nonton JGTC dari Facebook-nya.

Telfon tersambung dan berbunyi dering sekali, "Halo Bos!" suara di seberang sana menyahut. "

(Selanjutnya percakapan dilanjutkan dalam bahasa Bali, bahasa Mamaku. Aku di-translate menggunakan bahasa Jawa, karena berperan sebagai orang Jogja yang baru pertama kali datang ke ibukota, sedangkan Putra diterjemahkan dalam bahasa gaul karena sudah lama tinggal di Jakarta).

"Halo juga bos, dije ne (neng ndi kowe) ?" aku bertanya.

"Aku di UI, mebalih JGTC ajak timpal-timpalku (Gue di UI, nonton JGTC bareng sama temen-temen gue)." Putra menjawab.

"Beh, aku lakar kemo masi nok, tapi sing nawang menek apa, wake nawang sing (Walah, aku yo arep rono je, tapi gak ngerti numpak opo, kowe ngerti ra)?" aku bertanya lagi.

"Nyanan wake menek bis uli muka RS Fatmawati gen, ade bis ne langsung ke Depok. Nyanan tuun di Kober terus mejalan bedik. Ditu liu ade tandane (Nanti elo naik bis dari depan RS Fatmawati, ada kok bis langsung ke Depok, terus elo stop di Kober dan jalan dikit. Di sana banyak ada tandanya kok)." Jawab Putra lagi.

"Ok, Bos, nyanan aku kemo, aku kayeh malu (Ok Bos, mengko aku rono, aku tak adus sik)." sambatku sambil mengakhiri percakapan kami.

Sesaat kemudian setelah me-log out semua account-ku yang aktif dan beranjak ke lantai 4 mess-ku untuk mandi. Di atas aku ketemu sama Syahril Wianto, teman kerjaku yang mengaku berasal dari Sragentina.

"Ril, kowe melu nonton JGTC neng UI ra saiki?" aku bertanya sambil mengambil handukku.

"Males aku, Fat. Aku arep ngutak-ngatik HaPe anyarku sik." dia menjawab sambil memegang henpon dan stylus-nya.

Aku teringat, kemarin aku dan Tony Hariadi, teman kantorku yang geographer, nganterin Syahril pergi beli HaPe Sony Ericsson w960 di Mal Ambasador.

"Yos wis, nek ngono aku lungo dewe wae." sahutku sambil pergi ke kamar mandi dan melakukan aktifitas yang seharusnya dilakukan dipagi hari.

Selesai mandi, aku langsung ngeloyor pergi naik 610 sampai depan RS Fatmawati. Cukup lama aku nungguin bis di sana kayak orang bego. Karena lamanya, aku berinisiatifnyamperin tukang rujak yang ngetem di dekatku untuk bertanya.

"Maaf Pak, saya mau tanya, kalau bis yang langsung ke Depok lewat depan sini nggak?" aku bertanya sopan ala Jogja.

"Kalo bis langsung ke Depok kagak lewat sini, Mas. Lewatnya sono no, di utara sono di perempatan bawah jalan layang. Nanti Mas nunggunya di pojokan sebelah timur, ada bis patas putih yang langsung ke Depok." jawab mas tukang rujak dalam bahasa Jakarta berlogat Jawa yang masih kental.

Aku jalan balik ke perempatan Fatmawati-TB Simatupang ditengah terik matahari yang panas. Sudah lama nggak ke lapangan, panasnya matahari kurasa bagaikan neraka ditengah polusi ibu kota. Sampai di sana, aku melakukan hal yang bego lagi, nunggunin bus patas putih yang langsung ke Depok.

Di saat aku melakukan hal bego itu sambil ngeliatin kendaraan yang lewat, ada seorang cewek manis yang nyamperin.

"Mas, ada bis warna ungu ke Depok yang lewat sini nggak?" dia bertanya padaku sambil (mungkin) menggumam dalam hati, "Waduh, sial aku ketemu orang bego di sini!"

"Ada sih tadi Mbak, tapi pada penuh semua. Oh, itu bis ke Depok ya? Lewat kampus UI nggak Mbak?" aku balik bertanya padanya.

"Iya Mas, bis yang itu lewat depan kampus UI." jawabnya sambil (mungkin) berpikir dalam hati, "Ni orang udah bego, udik lagi!"

"Lha, kok nggak naik bis patas putih yang langsung ke Depok Mbak? Kan enak nggak panas, pake AC." Aku melanjutkan percakapan dengan gaya sok tau.

"Kan bis patas itu nggak lewat sini Mas! Lewatnya Ragunan sana, masih jauh lagi ke timur." jawabnya lagi sambil (mungkin) berkata dalam hati, "Sial memang aku hari ini, ketemu orang yang udah bego, udik, sotoy lagi!"

"Waduh!" balasku singkat sambil memikirkan betapa hari ini aku menjadi si "Bego Kuadrat"!

Untungnya singkat waktu kemudian bis ungu datang menyelamatkanku dari percakapan yang aneh ini. Aku bergegas naik mengikuti si cewek manis itu ke dalam bis. Di dalam bis yang penuh sesak, berbagai macam aroma yang bercampur baur, aku berdiri di samping si cewek manis sambil megangin pegangan atas yang agak lengket karena pegangan ribuan orang berkeringat yang memegangnya sebelumnya.

Si cewek manis turun duluan di daerah yang aku nggak tau namanya.

"Duluan ya Mas." katanya sambil (mungkin) tersenyum dalam hati, "Sukur aku duluan turun daripada si bego ini!"

"Oh ya, hati-hati ya!" jawabku dengan senyuman sok cool.

Perjalanan dilanjutkan sampai aku menemukan pelang tanda Universitas Indonesia. Aku dengan pedenya mengetok-netok plafon atas minta diberhentikan di sana kepada sang supir bis. Waktu aku turun, ada beberapa orang muda berdandan seperti mahasiswa yang juga ikut turun. Mereka langsung naik ke jembatan penyeberangan dan naik ojek di seberang sana. Aku dengan sotoy-nya mengikuti mereka dengan pikiran mereka akan pergi ke tempat yang aku tuju. Nah, ketika aku sudah naik ojek aku baru bertanya pada babe tukang ojek, "Bos, ini jalan yang ke tempat JGTC itu kan?"

Pertanyaan yang menunjukkan betapa sotoy-nya aku, baru tanya pas sudah naik ke motor.

"Iya Mas, itu tempatnya di sana. Yang rame-rame itu lho!" jawab tukang ojek enteng.

Setelah membayar 6 ribu rupiah ke babe tukang ojek, aku bergegas menuju loket penjualan tiket. Kulihat di sana mbak-mbak cantik-cantik yang sepertinya mahasiswa FE sana melayani dengan ramah. "Wah, ini baru di loket depan aja udah cakep-cakep, apalagi yang di dalam ya!" pikirku dalam hati.

Aku membayar 35 ribu dan melanjutkan ke gerbang pintu masuk. Di dalam, aku segera menelfon Putra dan kami bertemu di stand KFC. Aku makan kebab dulu, mengingat aku juga belum sempat sarapan, apalagi sekarang sudah siang, baru kemudian kami masuk. Di dalam, Putra dan dua temannya dari kumpulan motor Tiger mengeluarkan kamera masing-masing. Kamera SLR Canon dan Nikon besar-besar berseri D nomer kecil dengan lensanya yang panjang-panjang. Wuih!

Saatnya aku mengeluarkan kamera, dan ternyata yang keluar adalah Canon Powershot SX 100 IS yang bukan merupakan tandingan bagi kamera mereka. Hehehe, aku nyengir aja. "Yang penting kan de men bihain de gan-nya." pikirku dalam hati menyenangkan diri sendiri sok bisa fotografi.

Di dalam, kami menuju stage C, di mana band yang sedang manggung adalah 21st night. Lagunya keren-keren, namun terutama yang lebih keren lagi adalah Vicky, si backing vocal yang mendapat sambutan paling meriah ketika diperkenalkan. Gak cuma Vicky yang keren, yang nonton juga keren-keren. Aku, Putra, dan teman-temannya langsung memasang "Mupeng" mode on, kayak orang idiot, begitu melihat anak-anak sekarang cantik-cantik berkumpul jadi satu di tempat konser jazz yang keren.

Selama beberapa jam kami menikmati alunan musik jazz di beberapa stage berbeda. Di sana ada 3 stage, dua stage agak kecil, A dan B, serta satu main stage yang besar, stage C. Teman-teman Putra pamit duluan dengan alasan masing-masing.

Aku dan Putra melanjutkan nonton berdua di stage C. Yang tampil adalah Sadaluhung Big Band dari Unpad. Aku mulai merasakan angin kencang menerpa wajahku yang hitam berkeringat, lalu aku berpaling melihat awan di atas yang mulai menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat.

"Tra, kayakne rage maluan na, lakar ujan ne puk (Tra, aku disikan yo, ketoke iki arep udan je)!" aku berkata pada Putra di sampingku.

"Oh keto. Nah, maluan be, aku nyanan dogen, ngantiang Tompi malu (Oh gitu. Ya udah, elo duluan aja, gue nanti aja, mau nungguin Tompi dulu)." Jawab Putra yang merasa nanggung kalau pulang sebelum Tompi tampil di stage yang sama jam 9 nanti.

Aku bergegas berjalan keluar mengejar awan yang semakin membuat suasana menjadi gelap. Saat berjalan cepat itu, tiba-tiba HaPe-ku berbunyi tanda SMS masuk. Aku buka dan isinya sangat mengejutkanku.

Di layar ponselku itu tertulis "Innalillahi wainna ilaihi roojiun, telah berpulang ke rahmatullah: Ibu Sukarni (ibunda sdr Wahyu Basuki) jam 13.00 di Lumajang". Pengirim SMS itu adalah Ivan Yogiansyah, teman kuliahku yang sekarang kerja di Astra Credit Company Fatmawati depan Petronas dan sekantor dengan Wahyu, dekat dengan kantorku.

Sontak aku merasa terkejut. Wahyu adalah teman baikku waktu kuliah dulu. Kami sudah seperti saudara sendiri, berbagi suka dan duka bersama. Kami juga sering terlibat dalam lingkaran setan hutang, alias saling mengutangi (berhutang, tidak ada hubungannya dengan kutang) bersama-sama dengan Welldha Silaban, temanku yang sekarang jadi regional sales manager Bank Mandiri Balikpapan sana.

Aku segera menghubungi Wahyu, namun tidak diangkatnya. Aku lalu menghubungi Ivan, si pengirim SMS. "Sudah, kamu coba aja hubungi dia lagi." begitu katanya.

Aku segera mempercepat langkahku karena rintik hujan mulai turun dan bertambah deras. Aku berteduh di gerbang pintu masuk UI sambil berharap ada taksi yang lewat untuk mengantarku balik ke mess. HaPe-ku berbunyi, Wahyu menelfonku.

"Ton, aku sekarang ada di bandara. Sori tadi aku lagi check in, makanya nggak bisa angkat telfonmu. Nanti pesawatku boarding jam 5." katanya.

"Iya, nggak apa-apa. Kamu nggak apa-apa kan Yu?" aku bertanya.

"Nggak apa-apa kok Ton. Aku udah ikhlas. Disatu sisi aku juga senang, karena ibuku sudah terbebas dari sakitnya." kata Wahyu mencoba tabah.

"Ya sudah Yu, kalau kamu nggak apa-apa. Salam aja buat bapakmu dan Arif (adiknya Wahyu). Maaf aku belum bisa ke sana." kataku sambil mengakhiri percakapan kami.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya ada juga taksi yang lewat. Aku langsung masuk duduk di samping pak supir.

Sepanjang perjalanan di tengah derasnya hujan, pikiranku melayang ke saat lebaran tahun 2007 lalu. Aku, Rantau Rusdi Irianto (teman kuliahku), dan Ari Hermawan (Wawan, adik teman kuliahku, Nicko Herlambang) pergi berlebaran ke rumah Wahyu di Lumajang. Kami dengan semangat muda pergi ke sana bersepeda motor melewati kota Malang. Ibunda Wahyu dan keluarganya menerima kami dengan hangat. Walaupun kami begitu merepotkan selama 2 hari tinggal di sana, Beliau membuat kami merasa nyaman dan seperti tinggal di rumah sendiri. Ketika kami akan kembali ke Jogja, Beliau dan Ayahanda Wahyu melepas kami dengan pelukan hangat seperti orang tua sendiri sambil berpesan agar berhati-hati di jalan.

Tak terasa menetes sebulir air mataku memikirkan momen itu.

"Selamat jalan Ibu.. Semoga Engkau menemukan kebahagiaan di alam sana…"

FathoniJo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: