Cuma Kodok Biasa

Di sebuah pantai yang sunyi, terhampar luas pasir putih yang berasal dari hancuran terumbu karang yang tumbuh tak jauh dari batas pasang surut. Rumput ilalang tumbuh subur di sekitar pantai yang sunyi itu. Air laut yang berwarna hijau meneduhkan setiap pandangan mata yang melihatnya. Debur ombak yang pecah saat mencapai garis pantai membuat tenang setiap jiwa yang mendengarnya. Pantai yang sangat menggoda indahnya, terutama pada saat matahari terbenam. Warna emas yang memantul di antara batas laut dan langit memberikan kesan damai bagi tiap makhluk yang meluangkan waktu untuk menikmatinya.

Waktu itulah yang selalu disediakan oleh Kori, katak jantan besar yang tinggal di sungai yang bermuara di pantai itu. Setiap hari Kori setia menanti waktu senja dan datang ke pantai hanya untuk mengantarkan sang mentari kembali ke peraduannya. Saat-saat itulah yang paling berharga bagi Kori yang tinggal seorang diri sampai beranjak dewasa. Satu-satunya saat yang paling menghibur hati Kori yang selalu sunyi.

Sebenarnya Kori tidak lahir di sana, tapi jauh ke arah darat, di mana hamparan sawah bagaikan permadani yang terbentang luas. Sebuah kecelakaan kecil merenggut Kori dari keluarga serta katak-katak lain yang disayanginya. Sore hari itu hujan rintik. Kori dan teman-temannya bermain petak umpet untuk menyambut berkah yang turun dari langit. Kori bersembunyi di balik batu kecil di pinggir sungai tidak jauh dari sawah, berharap Ara, teman baiknya, tidak bisa menemukannya. Tempat Kori bersembunyi merupakan tempat yang nyaman, begitu tersembunyi dan terlindung di balik rerumputan yang menjulang ke sungai. Begitu nyamannya sehingga Kori terlelap di atas daun mangkok yang diambilnya sewaktu terhanyut tak jauh dari tempatnya berjongkok.

Hujan bertambah lebat saat Ara berhasil menemukan semua katak-katak kecil yang bersembunyi di tempat mereka masing-masing, kecuali Kori.

“Kori, kamu dimana?”, Ara berteriak memanggil.

Petir menggelegar kencang membuat takut anak katak yang sedang bermain itu. Kori yang sedang terbuai mimpi sampai terbangun mendengarnya. Air yang semakin keruh mulai naik dan menghanyutkan daun mangkok serta Kori yang berada di atasnya. Serta merta Kori kecil mulai panik.

“Ara! Teman-teman! Tolong aku! Tolong!”

Teriakan Kori tak berhasil menembus deru suara hujan serta air sungai yang bergemuruh. Tubuh kecil Kori tak kuasa menahan arus kencang yang membawanya pergi jauh dari kehidupan yang dicintainya, hingga berakhir di muara pantai yang indah itu.

~~~~~

Sore seperti biasanya, setelah selesai berenang dan mencari makan, Kori bergegas menuju pantai. Kori melompat-lompat kecil melewati rerumputan di atas pasir putih yang lembut. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh suara aneh yang sudah sangat lama tidak didengarnya. Suara yang mengingatkannya pada masa-masa kecil dulu. Suara itu mirip dengan kereta yang berjalan tanpa ditarik sapi dan mengeluarkan asap berwarna hitam dari pantatnya. Kereta yang datang pada saat petani memotong padi yang sudah kuning dan membawanya pergi jauh.

Kori bergegas menuju arah suara itu. Dilihatnya kereta itu, lebih kecil daripada kereta yang dulu pernah dia lihat. Kereta berwarna seperti batu sungai yang gelap dengan empat kakinya yang bulat. Suaranya juga tidak sekeras seperti dalam ingatannya dan juga tidak mengeluarkan asap hitam. Sejenak kemudian kereta itu tidak lagi mengeluarkan suara. Kori memperhatikan dengan hati-hati sembari menyembunyikan badannya di balik rerumputan menanti apa yang akan terjadi.

Tak lama kemudian, dilihatnya sepasang kaki keluar dari dalam kereta. Sepasang kaki putih bersih keluar dari dalam kereta menopang sesosok badan yang langsing. Kori sejenak tertegun menyaksikan seorang manusia yang begitu indah berdiri di depannya. Kembali terngiang di benaknya tentang sosok manusia yang dulu pernah dilihatnya. Manusia yang setiap hari mencangkul di sawah penuh dengan lumpur di bawah terik matahari. Manusia yang ini sangatlah berbeda dengan manusia dalam ingatannya.

Manusia yang ini sangatlah bersih, tidak ada lumpur yang menempel di badannya.  Pakaiannya juga bersih, tidak compang-camping. Baunya juga harum, tidak apek. Tidak ada bekas-bekas terbakar matahari di kulitnya. Rambutnya panjang  sebahu lewat sedikit tergerai tertiup angin. Wajahnya indah, tak dapat dibandingkan dengan apapun, karena Kori belum pernah melihat wajah seindah ini sebelumnya.

Kori terhenyak dari lamunannya segera setelah manusia tiba-tiba berlari menuju ke laut. Kori melompat-lompat mengejar manusia itu agar tidak hilang dari pandangannya. Manusia itu berlari bertelanjang kaki menerjang buih-buih ombak di pantai. Tertawa lepas manusia itu bermain-main ombak dan membiarkan pakaiannya basah, bagai anak-anak petani yang tertawa puas setelah layang-layang miliknya naik dan terbang tinggi di angkasa.

Tebersit kemudian di benak Kori untuk mendekat, menyapa, dan bermain bersama manusia yang indah itu. Kori mulai melompat mendekati manusia itu. Sebentar kemudian Kori sudah berada hanya beberapa lompatan lagi di pinggir pantai. Kori berhenti sejenak dan berharap mendapat perhatian dari manusia yang dituju. Manusia indah itu masih saja asyik bermain dan tertawa lepas. Kori masih setia menunggu dan memikirkan bagaimana cara menyapa manusia itu.

“Hai, aku Kori. Maukah kamu menjadi temanku dan bermain denganku?” Tanya Kori mencoba dialognya dalam hati.

Tak lama kemudian, manusia indah itu berhenti bermain air dan kembali ke pantai, menuju tempat Kori menanti. Saat itu matahari sudah mulai menunjukkan warna keemasannya. Ketika manusia mendekat, Kori yang sudah mempersiapkan diri untuk berkenalan, melompat ke hadapannya.

“Hai manusia yang indah, aku Kori. Maukah kamu menjadi temanku dan bermain denganku?” Tanya Kori.

“Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgh! Pergi kau kodok jelek!” Teriak manusia itu dalam bahasa yang tidak dimengerti Kori.

Selanjutnya Kori mendapati manusia itu sudah berlari menuju keretanya dan pergi meninggalkan Kori seorang diri. Bukan sebuah situasi yang diharapkan Kori.

“Berhenti! Kenapa kau pergi? Aku hanya ingin berkenalan denganmu! Aku ingin bermain bersamamu!” Teriak Kori berusaha menghentikan laju kereta itu.

Teriakan Kori tidak membuat laju kereta itu menjadi pelan dan berhenti. Hanya debu beterbangan yang tinggal serta jejak manusia itu di pasir pantai yang tak lama kemudian hilang disapu oleh ombak.

Kori terdiam beberapa lama di tempatnya merenungkan apa yang baru saja terjadi, sampai saat sapuan cahaya keemasan menerpa wajahnya yang sendu. Kori berbalik badan menuju arah datangnya cahaya dan melayangkan pandangannya ke batas cakrawala. Dipandangnya matahari yang mulai masuk ke peraduannya. Saat-saat yang tidak pernah dilewatkan oleh Kori sepanjang hidupnya di muara pantai itu.

“Aku kira memang hanya kamu teman sejatiku. Hanya kamu yang mampu menghiburku dalam hari-hariku yang sepi.” Berkata Kori kepada matahari yang mulai redup sambil melompat pergi kembali ke sungai tempat tinggalnya selama ini.

 

 

Leave a comment »

Iseng-Iseng ke Balinale International Film Festival

Ternyata beberapa hari ke depan ada kegiatan yang berhubungan dengan film di dekat rumah sini aja, namanya Balinale International Film Festival 2010. Kegiatan ini menurut katalog yang aku dapat, berlangsung dari 12 sampai 17 Oktober ini di bioskop 21 Mal Galeria. Aku aja gak tau ada even ini kalau semalam gak diajakin Putri sama Mas Haris ke Galeria beli iPod touch buat si Egan.

Malam pertama, malam pembukaan dimana kita harus membayar paling tidak satu juta rupiah buat tiket premiere untuk berdua buat nonton Eat Pray Love-nya Julia Roberts, akses belakang panggung, kesempatan buat nonton semua film sampai akhir festival, akses masuk ke festival planner, dan tempat duduk Peri Impoten Persen (VIP). Untuk kelas biasa, kita mesti bayar 250ribu untuk bisa nonton semua film, semacam tiket terusan, atau kalau tidak, cukkup bayar 25ribu perorang perfilm.

Semalam waktu pembukaan, hadir Pak Gubernur, Pak Bupati, beberapa bintang film dari Jakarta. Kalo pingin nonton, kita mesti tunggu sampai hari ketiga, kecuali kita punya akses VIP tadi.

Balinale Film Festival dimulai dari tahun 2007, digagas oleh Yayasan Bali Taksu Indonesia, organisasi nirlaba yang didirikan oleh Christine Hakim dan Deborah Gabinetti, direktur Bali Film Center. Tahun ini ada beberapa film panjang dan pendek yang diputar, antara lain berasal dari Perancis, Selandia Baru, Spanyol, Australia, Indonesia, Korea Selatan, Italia, India, Cina, Belgia, Inggris, dan tentu saja, Amerika Serikat.

Ini jadwal filmnya, kalau berniat datang mulai hari ini.

Rabu, 13 Oktober

13.00     *I Know What You Did On Facebook (90 menit – Indonesia)

14.30     A Good Day To Die (90 menit – USA)

16.30     As The Rain Was Falling (9 menit – Perancis)

*Home By Christmas (95 menit – Selandia Baru)

19.00     Jesusito De Mi Vida (9 menit – Spanyol)

Babies (79 Menit – Perancis)

21.00     *Animal Kingdom (113 menit – Australia)

Kamis, 14 Oktober

13.00     Debt (24 menit – Indonesia)

Little Black Dress (20 menit – USA)

Debris (25 menit – Korea Selatan)

3 Onions (3 menit – Indonesia)

14.30     Me, Them & Lara (115 menit – Italia)

16.30     Initiation at Wangi-Wangi Island (15 menit – Indonesia)

*Made in India (96 menit – India/USA)

19.00     *Ocean Heaven (102 menit – Cina)

21.00     Stone (113 menit – USA)

Jumat, 15 Oktober

13.00     Transparente (13 menit – Belgia)

Purnama di Pesisir (17 menit – Indonesia)

El Cortejo (14 menit – Spanyol)

Anak-Anak Lampur (23 menit – Indonesia)

14.30     *7 Hearts, 7 Love, 7 Women (90 menit – Indonesia)

16.30     The Big Happiness (12 menit – Selandia Baru)

Exit Through the Gift Shop (87 menit – USA/UK)

19.00     *Poetry (139 menit – Korea Selatan)

21.00     The Social Network (120 menit – USA)

Sabtu, 16 Oktober

10.00     Manual Practico Del Amigo Imaginaro (19 menit – Spanyol)

Bran Nue Dae (88 menit – Australia)

Minggu, 17 Oktober

10.00     Birth (10 menit – Korea Selatan)

*The Dreamer (120 menit – Indonesia)

Keterangan: *katanya bisa nonton bareng sama pembuat film atau aktornya.

Untuk infonya, silakan lihat sendiri di www.balinale.com

Selamat nonton! :)

Leave a comment »

Minggu Pagi di Lapangan Puputan Kota Denpasar

Minggu pagi, kesempatan buat kumpul bareng keluarga di hari libur yang bagi sebagian orang mungkin hanya sekali dijumpai dalam kalender kerja 6-1. Beberapa orang menghabiskan waktu dengan tiduran di pembaringan, sebagian lain berjalan-jalan di tempat menarik, ada juga yang pergi ke pasar, atau berolah raga di fasilitas publik. Buatku, minggu pagi sama seperti hari-hari biasa, bangun pagi setelah subuh, ambil sepeda dari garasi, keluar keliling kota sambil mengamati berbagai macam ekspresi dan suasana kota yang mulai ramai hilir mudik orang dengan segala kepentingannya.

Tujuan hari ini selain rute normal: lapangan Puputan Kota Denpasar.

Setelah sekitar 10 menit mengayuh sepeda, aku sampai di depan patung Catur Muka representasi Dewa Brahma yang seperti namanya, memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Patung setinggi 9 meter ini dibangun pada tahun 1973 oleh pematung asal Ubud, I Gusti Nyoman Lempad.

Berjalan ke arah timur dari patung Catur Muka, di dalam komplek lapangan Puputan Denpasar, kita akan menjumpai patung Pahlawan Puputan Badung yang diresmikan pada tahun 1979 oleh menteri keuangan saat itu, Prof. Dr. Ali Wardhana. Patung ini merupakan simbol perjuangan rakyat Bali pada saat peristiwa Puputan Badung yang pecah pada tahun 1906 dan berakhir hanya dalam waktu 2 jam! Dalam buku Seabad Puputan Badung, Perspektif Belanda dan Bali, hasil editan Creese, Darma Putra, dan Nordholt, disebutkan tentang penyebab pertempuran.

Menurut versi Belanda, peperangan terpaksa dilakukan karena kerajaan Badung membiarkan penjarahan kapal Sri Kumala yang terdampar di Sanur. Ketika Belanda meminta kerajaan Badung untuk membayar 3000 ringgit akibat perampasan tersebut, raja Badung menolaknya. Selain itu, penyerangan dilakukan karena raja Badung tidak mau menghapus tradisi mesatia, yaitu ritual yang dilakukan para istri dengan membakar diri ketika suaminya meninggal sebagai tanda kesetiaan.  Penyebab lainnya yaitu berlarut-larutnya masalah perbatasan antara Badung, Gianyar, dan Bangli yang menyebabkan seringnya terjadi bentrokan.

Namun menurut versi kerajaan Badung, permintaan denda itu hanya alasan yang dicari-cari karena setelah dilakukan penyelidikan tidak ada yang melakukan penjarahan isi kapal sehingga raja Badung menolak untuk membayarnya. Bagi raja Badung, bukan besarnya denda yang menjadi masalah, tetapi karena Belanda telah nyata-nyata menginjak kebebasan atau hak rakyat berupa kejujuran dan kebenaran!

Alhasil, pertempuran yang mungkin lebih tepat disebut pembantaian tersebut pecah. Raja Pemecutan dan raja Denpasar yang bertempur beserta pengikutnya, pria, wanita, tua, muda, menggunakan pakaian terbaik untuk bertempur serta bersenjatakan tombak dan keris gugur melawan Belanda yang bersenjatakan senapan dan meriam.

Sebelah timur patung Puputan Badung, terdapat sederet tempat duduk di bawah pepohonan yang rindang dengan papan catur dan buah catur berukuran sekitar anak kelas 3 SD. Agak membingungkan juga melihatnya dan menimbulkan pertanyaan dalam diri, yang bermain catur akan memindahkan buah caturnya sendiri atau membawa kacung untuk melakukannya? Nyatanya pagi itu tidak ada yang benar-benar bermain catur di sana, hanya sekumpulan anak kecil yang bermain, memindahkan buah catur seukuran tubuh mereka tanpa mesti berpikir keras ala Irene Kharisma Sukandar, master FIDE wanita Indonesia yang meraih gelar master Percasi dalam usia 9 tahun!

Berjalan mengitari lapangan di sebelah timur, di depan Pura Agung Jagatnatha, saat ini diselenggarakan pameran budaya. Banyak booth, tapi aku sendiri tidak begitu paham apa yang sedang dipamerkan. Mataku hanya tertuju pada papan menu salah satu booth, sate kakul. Kakul adalah sejenis kerang kecil yang hidup di sawah, memiliki tekstur daging yang lebih kenyal daripada kerang laut dan memiliki rasa yang khas.

Lanjut ke arah selatan lapangan, akan ada semacam washtafel tempat air minum. Ini dijumpai juga di lapangan Renon. Free drinking water for public, jadi gak usah repot-repot beli Aqua 3000 rupiah, tinggal pencet kerannya langsung ke mulut dan dahaga akan hilang.

Minggu pagi memang saat yang istimewa. Sangat sayang apabila harus dihabiskan di atas peraduan. Sangat berharga apabila dilewatkan dengan menonton HBO, yang acaranya berulang-ulang terus selama sebulan. Alangkah bahagianya apabila bisa dibarengkan dengan keluarga tercinta berbagi pengalaman bersama di ruang terbuka publik yang nyaman atau di tempat tujuan yang menarik.

Happy Sunday morning. Family comes first as blood is thicker than water.

Leave a comment »

Nyanyian “Paris Barantai” di Discovery Mall Kuta

“Wayah pang sudah hari baganti musim
Wayah pang sudah

Kotabaru gunungnya Ba’ mega
Ba’ mega umbak manampur di sala karang
Umbak manampur di sala karang

Batamu lawanlah adinda
Adinda iman di dada rasa malayang
Iman di dada rasa malayang..”

Sepenggal kalimat dari lagu Paris Barantai karya H. Anang Ardiansyah tersebut mungkin terasa agak asing ditelinga sebagian besar orang yang berada di Discovery Mall Kuta sore ini. Mungkin juga sama seperti aku, yang sewaktu masih di Banjarbaru biasa mendengar Radio SAS FM pada saat berangkat ke tambang dan kumpulan rekaman lagu yang tidak berbahasa Banjar ketika siaran radio mulai terdengar gemeresek di mobil Ranger Ali. Satu-satunya lagu berbahasa Banjar yang pernah kudengar di kumpulan rekaman lagu Ali cuma lagu tentang kekecewaan seorang pria yang ditinggalkan ceweknya gara-gara kalah bersaing dengan pria lain yang memiliki motor yang lebih bagus! Lagu yang sedikit liriknya bisa kuartikan dengan mulut terkulum menahan tawa karena terdengar lucu.

Siang itu di Discovery Mall Kuta ada acara Borneo Extravaganza, semacam eksibisi kesenian dari pulau Kalimantan. Ada empat booth yang berasal dari empat provinsi yang ada di Kalimantan, mulai dari ujung barat sampai ujung timur. Acara ini berlangsung dari tanggal 8 sampai 10 Oktober besok. Beberapa barang kerajinan serta brosur-brosur potensi wisata masing-masing daerah tersedia di setiap booth. Tidak ketinggalan juga kesenian dari tiap provinsi ditampilkan di atas panggung. Lucky for me, hari itu yang tampil dari Kalimantan Selatan.

Tidak lupa kuambil masing-masing brosur, terutama Kalimantan Barat, daerah di Kalimantan yang belum pernah aku menginjakkan kaki di sana. Tidak lupa juga aku mampir di booth Kalimantan Selatan, tapi sayang, barang-barang yang ada di sana nampaknya tidak dibawa langsung dari sana, tapi dibuat di daerah Padanggalak Sanur! Well, agak kecewa juga, padahal aku pingin cari tempat tisu sasirangan buat di kamar dan saluang goreng buat camilan.

Selain Paris Barantai, yang katanya terinspirasi keindahan alam sekitar Kotabaru, si penyanyi cowok bersuara merdu yang namanya aku lupa dan Kiky, duet perempuannya, ada juga lagu Saputangan Babuncu Ampat dan satu lagu lagi yang aku lupa namanya sebelum aku harus pulang karena Itok disuruh pulang sama mamanya. Ibu Dayu, perempuan Bali paruh baya yang duduk di depanku, saking senangnya dengan lagu Paris Barantai, sampai meminta kedua biduan untuk mengulang kembali bernyanyi lagu itu. Ternyata lagunya bagus juga, aku suka. Sembari lagu dinyanyikan, beberapa penonton secara spontan ikut naik ke panggung sambil berjoget ala poco-poco yang asal Timur Indonesia.

Sebelum kedua penyanyi naik ke panggung, kami disuguhi tarian dari Kabupaten Balangan, namanya tari Bakasai Duri Manau, tarian orang Dayak sana. Menurut ibu-ibu pembawa acara berjilbab yang fasih berbahasa Inggris, tarian tersebut merupakan tarian untuk menghormati alam yang telah memberikan penghidupan untuk penduduk daerah sana. Tarian tersebut menggunakan duri manau, yang katanya cuma tumbuh di daerah Balangan, digosok-gosokkan ke badan si penari. Mungkin kira-kira seperti tari Kecak di Bali yang menusuk-nusukkan keris ke dada atau Kuda Lumping yang makan beling. Sebelum tarian dimulai, ada semacam dukun membawa semacam kemenyan dan membaca semacam mantra kekebalan kepada si penari. Lalu dimulailah atraksi yang sebaiknya jangan pernah dicoba di rumah, ala perang pandan seperti di Desa Tenganan Karangasem, hanya saja, si penari tidak membalas, hanya menerima pukulan batang berduri.

It was so fun today, mengingatkan aku akan Banjar. Tapi sedikit ironi, selama aku di sana belum pernah sekalipun aku mendengar lagu ini, malah ketika pulang ke Bali aku disuguhi tontonan yang sebegitu menariknya. Andai saja dulu di sana aku mengerti kalau ada tempat-tempat yang menyediakan hiburan kesenian lokal seperti ini, akan ada alternatif tempat hiburan lain selain window shopping sambil ngecengin cewek di Duta Mall, bilyar di hotel Barito, ngopi di Own Café, ngobrol-ngobrol gak jelas di tempe mendoan lapangan Moerdjani, atau teriak-teriak kesetanan di Happy Puppy.

Well, I miss tempe mendoan Moerdjani.

I miss teriak-teriak kesetanan di Happy Puppy.

I miss ngopi di Own Café.

I miss makan pentolnya Ipit.

I miss nyodok di Barito.

I miss ikan patin goreng yang bikin aku gak selera makan.

I miss my friends at the old office.

I miss Banjar.

I miss you..

My lovely room, Bali, 9 Oktober 2010. 11.09 pm.

Leave a comment »

Nongkrong Bareng Wahyu, Depi, dan Ucok.. Obrolan Seputaran Nikah dan Selingkuh

Minggu malam sekitar jam 7, aku, Ucok Hasibuan, Wahyu, dan Depi ketemuan di Citos. Bermula dari iseng-iseng nelfon Depi, akhirnya tercetus ide buat ngumpul bareng lagi setelah sekian lama mereka meninggalkan Jogja, lulus dari kampus Geologi UGM tercinta. Dari ngumpul bareng itu akhirnya baru terungkap setelah beberapa waktu kalau orang-orang ini ternyata berdomisili saling berdekatan, seputaran Fatmawati dan Cilandak. Rencananya Binsar juga mau ikutan, tapi karena semua orang rumah pada pergi, dia ketiban sial buat jaga kandang.

Wahyu dan Depi datang duluan dan langsung ngetem di Restoran Dimsum sebelah utara dekat Soho. Aku jemput si Ucok dulu ke kosnya dibelakang Total Buah Segar, di komplek keuangan. Pertamanya kami duduk di bagian, tapi berhubung aku dan Ucok adalah tipe orang yang tidak bisa mengakhiri makan tanpa kepulan asap rokok yang beracun, akhirnya kami pindah ke kursi agak belakang.

Obrolan ringan meluncur lancar seiring banyaknya cerita sewaktu lama tak bersua. Kenangan-kenangan masa lalu juga juga terselip diantara perbincangan kami diselingi kudapan makanan porsi kecil dimsum namun mengenyangkan. Rencana-rencana masa depan juga mulai terkuak. Rencana reuni 10 tahun angkatan ’99, rencana Ucok yang akan menikahi seorang pramugari sesama orang Batak asal Pekanbaru, rencana Depi yang juga akan menikah Februari 2010, rencana Wahyu yang minta dicarikan jodoh sama Depi setelah umur 32 dan akan mulai mengincar om-om kaya sebagai penghasilan tambahan (hehehe, becanda), dan aku yang masih jomblo dan belum memiliki rencana menikah tapi tidak se-desperate Wahyu dan akan merubah orientasi seksualku :).

Ngalor-ngidul kami ngobrol dan sampai pada topik seputar nikah dan selingkuh.

“Yang namanya nikah itu pasti bikin orang menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Orang yang sebelumnya minum jadi berhenti waktu nikah. Orang yang sebelumnya pemarah juga menjadi lebih sabar waktu menikah. Menikah itu berbeda daripada waktu pacaran. Kita dengan sendirinya menjadi teman, sahabat dan saudara bagi pasangan kita.” Kata Depi mengawali topik.

“Jadi kalo elo nggak merasa menjadi lebih baik, baik elo nggak usah nikah aja Cok.” Tambah Depi kepada Ucok yang akan memulai status baru bulan depan.

Obrolan tentang pacaran dan nikah dan pasangan memang tidak ada habisnya dibicarakan. Seiring obrolan kami, topik berubah haluan sedikit menjadi perselingkuhan.

“Nanti kalo loe udah nikah, jangan sekali-kali menerima curhat seorang cewek. Awal selingkuh itu bermula dari curhat.” kata Depi berdasarkan pengalaman pribadinya di kantor.

“Iya juga sih, sama kayak di kantur gue.” Wahyu membenarkan.

“Mulai dari masalah rumah tangga yang kelihatannya kecil nanti sampai ke rasa sayang yang terlarang.” Depi menambahkan.

“Iya, nggak ada tu yang namanya adik kakak. Gak ada juga yang namanya sahabat. Nanti ujung-ujungnya jadi sayang.” timpal Wahyu.

“Kata orang, diamond is women’s best friend, kalo sekarang gay is women’s best friend. Kalo cowok nggak bakalan bisa jadi women’s best friend, nanti bakal diembat juga.” tambah Wahyu.

“Tapi aku enggak tuh Yu!” sanggahku ke Wahyu.

“Buktinya aku sama Jenny nggak kayak gitu. Kami malah jadi sahabat baik sampe sekarang.” kataku lagi ke Wahyu.

Jenny adalah teman baikku, tempat curhat dari jaman kos dulu di daerah Gejayan. Dia orang Manado yang tinggal di Samarinda, pacar teman kosku, Yoda. Malah aku lebih dekat ke Jenny daripada Yoda. Dulu sering aku ajakin keluar ngangkring ngobrol gak jelas di Pakualaman sampe jam 2 pagi. Punya kemiripan nasib, kalo aku dimarahi ortu gara-gara gak lulus, dia dimarahi ortu gara-gara belum dapet kerjaan. Dia akhirnya dapet kerjaan, dan aku dalam waktu selisih sebulan, akhirnya lulus dan kerja juga. Sekarang kerja Jenny di Danamon Samarinda sebagai marketing officer.

“Iya, memang kelihatannya begitu, tapi nanti lama-lama dia pasti akan membandingkan elo sama Yoda. Mending elo sekarang jangan terlalu deket sama dia.” Wahyu menegaskan.

Aku sebenarnya tidak setuju dengan apa yang diucapkan Wahyu, tapi apalah. Yang penting kan pembawaanku ke Jenny tetap sebagai sahabat dan mudah-mudahan tidak ada pihak yang berniat merubah status itu. Walaupun aku masih jomblo, tidak ada niat buat ngembat sahabat sendiri, meskipun dia jadi cewek terakhir di dunia ini. Weleh, lebai, hehehe. Kata bapakku “Kalo ente masih jomblo, buka mata selebar-lebarnya. Tapi kalo ente sudah dapet, pake kacamata tidur, biar gak usah liat yang lainnya.”

Pembicaraan terus berlanjut menganan-mengiri sampai jam 9.30. Waktu untuk pulang karena kami semua mesti kerja di keesokan paginya. Wahyu masih bergelut dengan hitung-hitungan ekonominya, Depi dengan data seismik dan tetek bengeknya, Ucok yang lagi stand by di kantor entah ngapain, dan aku yang juga stand by dan sempat-sempatnya nulis note ini diwaktu jam kerja.

Hehehe..Pis man..

Leave a comment »

Jazz Goes to Campus UI, Senang dan Sedih Banget…

Jakarta Selatan, 23 November 2008.

Hari Minggu pagi yang cerah. Seperti biasa, aku duduk di depan komputer, browsing berita terbaru online, buka email siapa tau ada panggilan kerja baru, dan main Facebook. Tiba-tiba teringat aku kalau temanku latihan aikido di Jogja, AA. Indira Wardhani, ngajakin aku pagi hari ini buat jadi body guard dia dan tantenya pergi ke acara Jazz to Campus (JGTC) di UI Depok. Waduh, sial, aku lihat jam ternyata sudah jam 11, dan aku diajakinnya pagi. Yah, dasar sial, gara-gara aku begadangin strata.geol.sc.edu semaleman buat belajar sampai jam 1 pagi, aku jadi bangun jam 10!

Iseng-iseng aku buka website-nya JGTC. Disana ada jadwal acara dan siapa yang pentas. Ternyata acaranya mulai jam 11 siang dan berlangsung sampai malam. Langsung aku telfon temanku SMA-ku di Bali, Putra Jaya Suprana yang kerja di kantor pajak dan sudah lama tinggal di Jakarta. Aku tau kalau dia juga pingin nonton JGTC dari Facebook-nya.

Telfon tersambung dan berbunyi dering sekali, "Halo Bos!" suara di seberang sana menyahut. "

(Selanjutnya percakapan dilanjutkan dalam bahasa Bali, bahasa Mamaku. Aku di-translate menggunakan bahasa Jawa, karena berperan sebagai orang Jogja yang baru pertama kali datang ke ibukota, sedangkan Putra diterjemahkan dalam bahasa gaul karena sudah lama tinggal di Jakarta).

"Halo juga bos, dije ne (neng ndi kowe) ?" aku bertanya.

"Aku di UI, mebalih JGTC ajak timpal-timpalku (Gue di UI, nonton JGTC bareng sama temen-temen gue)." Putra menjawab.

"Beh, aku lakar kemo masi nok, tapi sing nawang menek apa, wake nawang sing (Walah, aku yo arep rono je, tapi gak ngerti numpak opo, kowe ngerti ra)?" aku bertanya lagi.

"Nyanan wake menek bis uli muka RS Fatmawati gen, ade bis ne langsung ke Depok. Nyanan tuun di Kober terus mejalan bedik. Ditu liu ade tandane (Nanti elo naik bis dari depan RS Fatmawati, ada kok bis langsung ke Depok, terus elo stop di Kober dan jalan dikit. Di sana banyak ada tandanya kok)." Jawab Putra lagi.

"Ok, Bos, nyanan aku kemo, aku kayeh malu (Ok Bos, mengko aku rono, aku tak adus sik)." sambatku sambil mengakhiri percakapan kami.

Sesaat kemudian setelah me-log out semua account-ku yang aktif dan beranjak ke lantai 4 mess-ku untuk mandi. Di atas aku ketemu sama Syahril Wianto, teman kerjaku yang mengaku berasal dari Sragentina.

"Ril, kowe melu nonton JGTC neng UI ra saiki?" aku bertanya sambil mengambil handukku.

"Males aku, Fat. Aku arep ngutak-ngatik HaPe anyarku sik." dia menjawab sambil memegang henpon dan stylus-nya.

Aku teringat, kemarin aku dan Tony Hariadi, teman kantorku yang geographer, nganterin Syahril pergi beli HaPe Sony Ericsson w960 di Mal Ambasador.

"Yos wis, nek ngono aku lungo dewe wae." sahutku sambil pergi ke kamar mandi dan melakukan aktifitas yang seharusnya dilakukan dipagi hari.

Selesai mandi, aku langsung ngeloyor pergi naik 610 sampai depan RS Fatmawati. Cukup lama aku nungguin bis di sana kayak orang bego. Karena lamanya, aku berinisiatifnyamperin tukang rujak yang ngetem di dekatku untuk bertanya.

"Maaf Pak, saya mau tanya, kalau bis yang langsung ke Depok lewat depan sini nggak?" aku bertanya sopan ala Jogja.

"Kalo bis langsung ke Depok kagak lewat sini, Mas. Lewatnya sono no, di utara sono di perempatan bawah jalan layang. Nanti Mas nunggunya di pojokan sebelah timur, ada bis patas putih yang langsung ke Depok." jawab mas tukang rujak dalam bahasa Jakarta berlogat Jawa yang masih kental.

Aku jalan balik ke perempatan Fatmawati-TB Simatupang ditengah terik matahari yang panas. Sudah lama nggak ke lapangan, panasnya matahari kurasa bagaikan neraka ditengah polusi ibu kota. Sampai di sana, aku melakukan hal yang bego lagi, nunggunin bus patas putih yang langsung ke Depok.

Di saat aku melakukan hal bego itu sambil ngeliatin kendaraan yang lewat, ada seorang cewek manis yang nyamperin.

"Mas, ada bis warna ungu ke Depok yang lewat sini nggak?" dia bertanya padaku sambil (mungkin) menggumam dalam hati, "Waduh, sial aku ketemu orang bego di sini!"

"Ada sih tadi Mbak, tapi pada penuh semua. Oh, itu bis ke Depok ya? Lewat kampus UI nggak Mbak?" aku balik bertanya padanya.

"Iya Mas, bis yang itu lewat depan kampus UI." jawabnya sambil (mungkin) berpikir dalam hati, "Ni orang udah bego, udik lagi!"

"Lha, kok nggak naik bis patas putih yang langsung ke Depok Mbak? Kan enak nggak panas, pake AC." Aku melanjutkan percakapan dengan gaya sok tau.

"Kan bis patas itu nggak lewat sini Mas! Lewatnya Ragunan sana, masih jauh lagi ke timur." jawabnya lagi sambil (mungkin) berkata dalam hati, "Sial memang aku hari ini, ketemu orang yang udah bego, udik, sotoy lagi!"

"Waduh!" balasku singkat sambil memikirkan betapa hari ini aku menjadi si "Bego Kuadrat"!

Untungnya singkat waktu kemudian bis ungu datang menyelamatkanku dari percakapan yang aneh ini. Aku bergegas naik mengikuti si cewek manis itu ke dalam bis. Di dalam bis yang penuh sesak, berbagai macam aroma yang bercampur baur, aku berdiri di samping si cewek manis sambil megangin pegangan atas yang agak lengket karena pegangan ribuan orang berkeringat yang memegangnya sebelumnya.

Si cewek manis turun duluan di daerah yang aku nggak tau namanya.

"Duluan ya Mas." katanya sambil (mungkin) tersenyum dalam hati, "Sukur aku duluan turun daripada si bego ini!"

"Oh ya, hati-hati ya!" jawabku dengan senyuman sok cool.

Perjalanan dilanjutkan sampai aku menemukan pelang tanda Universitas Indonesia. Aku dengan pedenya mengetok-netok plafon atas minta diberhentikan di sana kepada sang supir bis. Waktu aku turun, ada beberapa orang muda berdandan seperti mahasiswa yang juga ikut turun. Mereka langsung naik ke jembatan penyeberangan dan naik ojek di seberang sana. Aku dengan sotoy-nya mengikuti mereka dengan pikiran mereka akan pergi ke tempat yang aku tuju. Nah, ketika aku sudah naik ojek aku baru bertanya pada babe tukang ojek, "Bos, ini jalan yang ke tempat JGTC itu kan?"

Pertanyaan yang menunjukkan betapa sotoy-nya aku, baru tanya pas sudah naik ke motor.

"Iya Mas, itu tempatnya di sana. Yang rame-rame itu lho!" jawab tukang ojek enteng.

Setelah membayar 6 ribu rupiah ke babe tukang ojek, aku bergegas menuju loket penjualan tiket. Kulihat di sana mbak-mbak cantik-cantik yang sepertinya mahasiswa FE sana melayani dengan ramah. "Wah, ini baru di loket depan aja udah cakep-cakep, apalagi yang di dalam ya!" pikirku dalam hati.

Aku membayar 35 ribu dan melanjutkan ke gerbang pintu masuk. Di dalam, aku segera menelfon Putra dan kami bertemu di stand KFC. Aku makan kebab dulu, mengingat aku juga belum sempat sarapan, apalagi sekarang sudah siang, baru kemudian kami masuk. Di dalam, Putra dan dua temannya dari kumpulan motor Tiger mengeluarkan kamera masing-masing. Kamera SLR Canon dan Nikon besar-besar berseri D nomer kecil dengan lensanya yang panjang-panjang. Wuih!

Saatnya aku mengeluarkan kamera, dan ternyata yang keluar adalah Canon Powershot SX 100 IS yang bukan merupakan tandingan bagi kamera mereka. Hehehe, aku nyengir aja. "Yang penting kan de men bihain de gan-nya." pikirku dalam hati menyenangkan diri sendiri sok bisa fotografi.

Di dalam, kami menuju stage C, di mana band yang sedang manggung adalah 21st night. Lagunya keren-keren, namun terutama yang lebih keren lagi adalah Vicky, si backing vocal yang mendapat sambutan paling meriah ketika diperkenalkan. Gak cuma Vicky yang keren, yang nonton juga keren-keren. Aku, Putra, dan teman-temannya langsung memasang "Mupeng" mode on, kayak orang idiot, begitu melihat anak-anak sekarang cantik-cantik berkumpul jadi satu di tempat konser jazz yang keren.

Selama beberapa jam kami menikmati alunan musik jazz di beberapa stage berbeda. Di sana ada 3 stage, dua stage agak kecil, A dan B, serta satu main stage yang besar, stage C. Teman-teman Putra pamit duluan dengan alasan masing-masing.

Aku dan Putra melanjutkan nonton berdua di stage C. Yang tampil adalah Sadaluhung Big Band dari Unpad. Aku mulai merasakan angin kencang menerpa wajahku yang hitam berkeringat, lalu aku berpaling melihat awan di atas yang mulai menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat.

"Tra, kayakne rage maluan na, lakar ujan ne puk (Tra, aku disikan yo, ketoke iki arep udan je)!" aku berkata pada Putra di sampingku.

"Oh keto. Nah, maluan be, aku nyanan dogen, ngantiang Tompi malu (Oh gitu. Ya udah, elo duluan aja, gue nanti aja, mau nungguin Tompi dulu)." Jawab Putra yang merasa nanggung kalau pulang sebelum Tompi tampil di stage yang sama jam 9 nanti.

Aku bergegas berjalan keluar mengejar awan yang semakin membuat suasana menjadi gelap. Saat berjalan cepat itu, tiba-tiba HaPe-ku berbunyi tanda SMS masuk. Aku buka dan isinya sangat mengejutkanku.

Di layar ponselku itu tertulis "Innalillahi wainna ilaihi roojiun, telah berpulang ke rahmatullah: Ibu Sukarni (ibunda sdr Wahyu Basuki) jam 13.00 di Lumajang". Pengirim SMS itu adalah Ivan Yogiansyah, teman kuliahku yang sekarang kerja di Astra Credit Company Fatmawati depan Petronas dan sekantor dengan Wahyu, dekat dengan kantorku.

Sontak aku merasa terkejut. Wahyu adalah teman baikku waktu kuliah dulu. Kami sudah seperti saudara sendiri, berbagi suka dan duka bersama. Kami juga sering terlibat dalam lingkaran setan hutang, alias saling mengutangi (berhutang, tidak ada hubungannya dengan kutang) bersama-sama dengan Welldha Silaban, temanku yang sekarang jadi regional sales manager Bank Mandiri Balikpapan sana.

Aku segera menghubungi Wahyu, namun tidak diangkatnya. Aku lalu menghubungi Ivan, si pengirim SMS. "Sudah, kamu coba aja hubungi dia lagi." begitu katanya.

Aku segera mempercepat langkahku karena rintik hujan mulai turun dan bertambah deras. Aku berteduh di gerbang pintu masuk UI sambil berharap ada taksi yang lewat untuk mengantarku balik ke mess. HaPe-ku berbunyi, Wahyu menelfonku.

"Ton, aku sekarang ada di bandara. Sori tadi aku lagi check in, makanya nggak bisa angkat telfonmu. Nanti pesawatku boarding jam 5." katanya.

"Iya, nggak apa-apa. Kamu nggak apa-apa kan Yu?" aku bertanya.

"Nggak apa-apa kok Ton. Aku udah ikhlas. Disatu sisi aku juga senang, karena ibuku sudah terbebas dari sakitnya." kata Wahyu mencoba tabah.

"Ya sudah Yu, kalau kamu nggak apa-apa. Salam aja buat bapakmu dan Arif (adiknya Wahyu). Maaf aku belum bisa ke sana." kataku sambil mengakhiri percakapan kami.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya ada juga taksi yang lewat. Aku langsung masuk duduk di samping pak supir.

Sepanjang perjalanan di tengah derasnya hujan, pikiranku melayang ke saat lebaran tahun 2007 lalu. Aku, Rantau Rusdi Irianto (teman kuliahku), dan Ari Hermawan (Wawan, adik teman kuliahku, Nicko Herlambang) pergi berlebaran ke rumah Wahyu di Lumajang. Kami dengan semangat muda pergi ke sana bersepeda motor melewati kota Malang. Ibunda Wahyu dan keluarganya menerima kami dengan hangat. Walaupun kami begitu merepotkan selama 2 hari tinggal di sana, Beliau membuat kami merasa nyaman dan seperti tinggal di rumah sendiri. Ketika kami akan kembali ke Jogja, Beliau dan Ayahanda Wahyu melepas kami dengan pelukan hangat seperti orang tua sendiri sambil berpesan agar berhati-hati di jalan.

Tak terasa menetes sebulir air mataku memikirkan momen itu.

"Selamat jalan Ibu.. Semoga Engkau menemukan kebahagiaan di alam sana…"

FathoniJo

Leave a comment »

Preman???

Suatu hari, Simbah dan cucunya, Grandong yang asyik bermain dengan PSP-nya, sedang nonton berita kriminal Buser SCTV di sofa empuk Starbucks Ambarrukmo. Berita yang sedang marak saat ini tentang pemberantasan preman di terminal-terminal, pasar, lokalisasi, jalan raya, sampai gang-gang sempit.

Grandong yang masih belum cukup umur untuk masuk SD apalagi minum bir sejenak terbagi perhatiannya dengan berita yang ditayangkan tersebut dan bertanya pada Simbah, "Mbah, preman itu apa toh?"

Simbah yang dari tadi memperhatikan serius berita yang di-stream di laptopnya menoleh sambil tersenyum lembut kepada cucu kesayangannya. Sejenak Simbah terdiam sambil berusaha mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Grandong. Sejurus kemudian Simbah membuka mulutnya, "Le, yang namanya preman itu kalau ndak salah, sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan waktu jaman sebelum Mbah dibikin sama buyutmu dulu, mereka sudah ada. Tapi dulu mereka itu orang baik-baik, jawara jagoan gelut yang direkrut buat membantu mengamankan orang-orang berduit dari para perampok. Mungkin sama dengan ronin kalau di Jepang. Kelanjutannya, istilah preman jadi berubah menjadi negatif karena mereka mulai suka malakin orang dan minta duit dari mereka."

Grandong yang mulai sedikit ngeh menimpali, "Kalau gitu Mbah, orang-orang yang tengah malam suka lewat sambil mukul-mukul tiang listrik itu preman juga ya? Kan mereka suka ngambilin duit di depan rumah!"

Simbah yang sedang menyeruput hot chocolate aroma vanilla-nya sedikit tersedak. Simbah berusaha memperbaiki raut wajahnya yang sedikit dongok karena kaget. "Ya bukan toh, Le. Mereka itu kan tukang ronda dari kampung kita. Lha wong Mbah dulu waktu masih kuat begadang juga sering ikutan giliran ronda hari Jumat malam kok Le. Uang yang di depan rumah itu memang sengaja ditaruh, namanya jimpitan. Tujuannya supaya orang-orang yang ikutan ronda itu keliling ngambilin duit keliling kampung. Kalo ndak digituin, nanti habis mereka nonton CSI-nya Star Movies dan ngabisin jajanannya si tuan rumah, mereka langsung ngeloyor pergi pulang, bobok", pungkas Simbah.

"Ooooooh begitu toh!" timpal Grandong dengan bibir mungilnya yang membentuk huruf O bulat.

"Terus kalau Jos Bus itu preman bukan Mbah? Dia kan katanya Papa, sengaja nyerang Irak cuma buat dapetin minyaknya. Apalagi waktu itu Amerika lagi butuh minyak banyak karena kebutuhan dalam negeri mereka meningkat akibat musim dingin, Mbah. Berarti kan tetap ujung-ujungnya duit juga." Grandong kecil melanjutkan perbincangan.

Simbah makin menampakkan wajah dongoknya, seakan tidak percaya akan apa yang didengar oleh kupingnya. Dalam hati mungkin Simbah menyalahkan anaknya yang memasang akses internet Indosat unlimited 100 ribuan di rumah karena rayuan si mbak SPG yang centil di Lower Ground Floor depan Carrefour Plasa Ambarrukmo. "Ya mungkin juga sih, Le." Simbah menimpali sekenanya karena pikirannya masih shock.

"Mbah, apa yang namanya preman itu selalu minta duit?" Grandong kembali bertanya.

"Kayaknya sih ndak, Le. Sekarang ini, aksi premanisme ada di mana-mana. Maksutnya, mereka menggunakan kekerasan dan menekan pihak lain agar kehendak mereka terpenuhi." Simbah akhirnya mulai menemukan kesadarannya.

"Ooo, berarti sama seperti kasusnya Kangmas Bejo di sekolahnya itu ya Mbah?" lanjut Grandong.

"Kasus yang mana to Le?" tanya Simbah penasaran.

"Katanya Kangmas Bejo, di sekolahnya itu, kakak kelasnya mukulin adik kelasnya, dan akhirnya mereka berantem. Katanya sih, karena kakak kelasnya itu tersinggung dengan posting adik-adik kelas mereka di Facebook yang isinya mendiskreditkan mereka. Persoalannya dimulai saat ekskul ilmiah yang menunjang mata pelajaran. Nah, si kakak kelas yang jadi tentor, katanya Kangmas Bejo, terlalu keras dan resek sama kelasnya Kangmas Bejo. Mereka dikasi tugas terlalu banyak dan waktu pengumpulan tugasnya juga gak jelas. Kelasnya Kangmas Bejo jadi keberatan. Namun si kakak kelas tetap keras hati. Jadinya kelasnya Kangmas Bejo tidak bisa berbuat apa-apa selain ngedumel dalam hati. Daripada cuma ngedumel doang dan bisa menyebabkan sakit jantung, beberapa orang teman kelasnya Kangmas Bejo bikin posting di Facebook. Nah posting itu mungkin sebabnya yang bikin mereka kesal dan melakukan kekerasan kepada teman kelasnya Kangmas Bejo. Berarti mereka preman dong Mbah?" si Grandong kecil bertanya dengan lugu.

Simbah cuma manggut-manggut sambil berpikir untuk menjawab cucunya yang tidak disangkanya secerdas ini. "Le, sebelum kita menyimpulkan suatu permasalahan, kita harus bisa melihat dari berbagai macam sudut pandang, supaya kamu bisa menyimpulkan secara obyektif. Kamu kan cuma dengar ceritanya dari Kangmas Bejo, kamu belum dengar versi kakak kelasnya toh?!" kali ini Simbah mulai serius menjawab pertanyaan cucunya.

"Yang namanya orang yang lebih muda wajib menghormati orang yang lebih tua, dan orang yang lebih tua wajib menyayangi yang lebih muda. Kalau orang yang muda berbuat salah, yang tua wajib mengingatkan dan memperbaiki dengan cara yang baik. Kalau yang lebih tua salah, dia wajib berbesar hati dan meminta maaf. Tidak ada yang salah dengan meminta maaf. Orang yang baik kan bukan orang yang ndak pernah berbuat kesalahan, tapi dia berbuat salah dan berusaha memperbaiki kesalahan itu." Simbah mulai mengeluarkan jurus-jurus wejangannya.

Grandong kecil memperhatikan dengan mimik wajah serius namun tetap tampak lugu sambil menyeruput es coklat ukuran mediumnya.

"Murid yang lebih mengerti membantu gurunya untuk membuat adik kelasnya mengerti itu kan mulia. Wong ada yang bilang itu amal jariyah, je! Menyebarluaskan pengetahuan yang berguna. Tapi, cara yang digunakan juga mesti bener. Jangan lagi pake cara-cara kolonial sok kuasa seperti waktu Mbah kecil dulu. Hari geenee pake cara kolot?!" tukas Simbah menirukan iklan Esia jadul.

"Anak-anak jaman sekarang itu sudah jauh pemikirannya. Bahkan jauh lebih cerdas daripada jaman jaya-jayanya Mbah dulu. Wong dulu Mbah cuma makan tiwul sama gaplek, anak-anak sekarang sudah makan Pizza Hut, McDonald, KFC, dan apalah itu segala makanan moderen. Dulu waktu jadi mahasiswa, Mbah cuma nongkrong di angkringan makan ceker ayam dan sate usus, anak-anak sekarang sudah dugem di Hugo’s atau cuma hangout santai sampai pagi di Oh la la." tutur Simbah membandingkan.

Simbah berhenti sebentar untuk meminum hot chocolate-nya yang sudah mulai dingin.

"Jadi Le, sudah ndak jamannya lagi pake cara-cara jadul dan otoriter buat ngajarin anak-anak jaman sekarang." sambat Simbah.

"Ooooooooooooh begitu toh!" kali ini bibir Grandong kecil lebih membulat.

"Tapi jangan lupa, Le, dalam menyampaikan uneg-uneg juga mesti sopan, jangan sampai menyakiti hati orang lain. Meskipun orang kata anak-anak jaman sekarang itu cerdas-cerdas, tapi tetap, mereka itu masih muda. Biasanya lebih gampang emosi. Nah emosi itu yang wajib dijaga jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Belajarlah untuk sabar. Katanya Kakeknya kakek buyutnya Mbah, good things come to those who wait. " Simbah menambahkan dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.

"Terus Mbah, sampai terjadi perkelahian itu bagaimana?" Grandong kembali bertanya.

"Wah kalau itu Mbah tetap ndak setuju. Yang namanya institusi pendidikan itu harus mengutamakan yang namanya dialog. Jadi berkelahinya lewat otak, bukan lewat otot. Kekerasan itu cara paling primitif dalam menyelesaikan masalah. Kalau bisa diselesaikan baik-baik kenapa harus dengan kekerasan? Gitu aja kok repot!" Simbah berkata sambil menirukan gaya Pak Dur.

"Ya sudah Le, sudah hampir ashar ini, ayo kita pulang. Kamu belum mandi sore toh?! Mamamu sudah miscall Mbah terus dari tadi. Tadi HaPe Mbah silent supaya bisa santai ngajak kamu keluar, hehehe." Simbah tertawa renyah mengakhiri diskusi sambil menutup laptopnya.

FathoniJo

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.